Showing posts with label LAPAN. Show all posts
Showing posts with label LAPAN. Show all posts

Friday, 8 September 2017

Lapan Libatkan ITS dalam Pembuatan Satelit Baru LAPAN A5

✈️ Satelit Lapan A-5 [Lapan]

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dalam pembuatan teknologi satelit terbaru yang diberi nama satelit LAPAN A5.

Ketua Tim Satelit A5 LAPAN Dr Albertus Heru dalam kuliah tamu di ITS, Rabu mengungkapkan, pembuatan satelit LAPAN A5 ini bekerja sama dengan Chiba University, Jepang dan telah berlangsung sejak penandatanganan Memo of Understanding (MoU) pada Mei 2013 lalu.

"LAPAN akan mengerjakan Platform/BUS-nya, sedangkan Profesor Josaphat akan menggarap sensor SAR untuk payload-nya," kata pria yang biasa disapa Heru ini dalam kuliah yang bertajuk "Perkembangan Teknologi Satelit di Indonesia" (A1-A5) tersebut.

Heru melanjutkan, teknologi yang dikembangkan untuk Satelit LAPAN A5 ini merupakan teknologi microsatelit canggih pertama di dunia yang menggunakan Synthetic Aperture Radar (SAR). Yakni merupakan bentuk radar yang digunakan untuk membuat gambar objek dua dimensi atau tiga dimensi, seperti landscape.

SAR merupakan bentuk lanjutan dari Side Looking Airbone Radar (SLAR). Biasanya SAR dipasang pada platform yang bergerak, seperti pesawat terbang atau pesawat ruang angkasa.

Pada kesempatan yang sama, Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang Prof Josaphat menjelaskan bahwa SAR memiliki frekuensi 1-40 Giga hertz. Sedangkan panjang gelombang yang dihasilkan adalah 1 centimeter - 1 meter lebih panjang dari butiran air di awan.

"Dengan frekuensi dan panjang gelombang tersebut, dengan teknologi SAR ini dapat menembus awan, kabut, maupun asap yang menghalangi sensor," kata Josaphat.

Kelebihan lain dengan digunakannya SAR, tambah Josaphat, adalah saat penggunaan satelit pada malam hari. Sumber cahaya satelit ini berasal dari satelit sendiri sehingga apapun waktunya, satelit dapat tetap menghasilkan citranya. "Mulai dari intensity, fase, polarisasi, semua infonya dapat. Kita juga bisa mengetahui jarak dari suatu objek, akurasinya hanya beberapa sentimeter," ujar pria kelahiran Bandung tersebut.

Bahkan menurut Prof Josaphat, teknologi tersebut juga dapat melakukan mapping air bawah tanah. Teknologi SAR tentu jauh lebih baik dan dapat menghasilkan citra lebih baik daripada teknologi konvensional.

Satelit ini, lanjut Josaphat, sangat bermanfaat untuk kegiatan perikanan dan maritim. "Banyak kecelakaan di darat atau laut. Saat ini Jepang pun terlalu banyak memiliki jalan tol. Pasti sulit jika melakukan pengawasan satu persatu. Satelit ini dapat mengetahui terowongan-terowongan besar agar dapat menghindari kerubuhannya. Satelit ini juga dapat mendeteksi pergerakan teroris," ujarnya.

Sementara itu Wakil Rektor IV bidang Penelitian, Inovasi dan Kerja Sama ITS, Prof Ketut Buda Artana, berharap agar ITS dapat banyak memberi kontribusi untuk pengembangan Satelit LAPAN A5 ini.

"Butuh kerja sama baik dari LAPAN, Chiba University, dan ITS. Saya berharap dengan kerja sama ini maka peran ITS akan semakin terlihat dalam kerja sama ini," kata Ketut.

  ✈️ Antara  

Friday, 25 August 2017

PTDI Siap Produksi 24 Pesawat N219 Tiap Tahun

✈ Pesawat N219 [Republika]

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menargetkan bisa memproduksi pesawat N219 sampai 24 unit per tahun. Namun untuk mencapai target tersebut sejumlah proses dan tahapan yang perlu dilalui.

Direktur Utama PT DI Budi Santoso menuturkan setelah melakukan serangkaian uji terbang diharapkan pesawat N219 sudah bisa diproduksi di akhir 2018. Sehingga pada 2019, diharapkan sudah berhasil memproduksi sebanyak 6 unit pesawat.

Di tahun berikutnya, kata Budi, jumlah produksi tersebut akan terus ditingkatkan sebanyak 12 unit pesawat sampai 24 pesawat setiap tahunnya. Dengan jumlah produksi tersebut biaya produksi akan semakin ekonomis dan bisa menguntungkan bagi perusahaan.

"Kita selesaikan akhir tahun depan (uji terbang). Kita produksi (akhir) 2018, 2019 mulai terbang tapi itu paling produksinya 6 pesawat. Terus naik jadi 12 pesawat. Target kami ini naik 24 pesawat per tahun produksinya," kata Budi, ditemui usai flight test ke dua, di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu (23/8/2017).

Menurut dia, untuk memproduksi secara pesawat hasil pengembangan bersama LAPAN pihaknya tidak perlu melakukan penambahan investasi baik dari alat dan juga aset. Saat ini saja, kata dia, kemampuan produksinya bisa mencapai 12 unit per tahun.

Pasalnya, Budi menjelaskan, sistem produksi pesawat (zig) untuk pembuatan purwarupa pesawat N219 bisa digunakan untuk melakukan produksi. Sehingga tidak perlu melakukan penambahan investasi.

"(Produksi) sampai 12 unit per tahun (fasilitas) yang ada sekarang cukup. Meski mesin zig dibuat untuk produksi prototipe, tapi mampu untuk produksi. Ini beda ketika dulu kami memproduksi N250, zig prototipe dan produksi berbeda," ujarnya.

Produksi pesawat N219 [Detik]

Sementara agar mampu memproduksi sebanyak 24 unit pesawat per tahun memang perlu menambah kawasan assembly atau perakitan. Namun hal itu bisa disiasati dengan memanfaatkan sejumlah hanggar kosong. Sehingga tidak perlu ada cost yang dikeluarkan terlalu besar.

"Untuk 24 unit per tahun memang perlu ada penambahan. Tapi ada hanggar kosong yang bisa dimanfaatkan. Jadi tidak terlalu besar investasinya," ujarnya.

Sejauh ini, dia menambahkan telah banyak perusahaan yang berminat membeli pesawat N219. Bahkan ada satu perusahaan asal dalam negeri yang ingin memesan 50 unit pesawat N219.

Tapi pihaknya, belum berani melakukan kontrak karena pesawat tersebut masih perlu melewati serangkaian pengujian untuk mendapat Type Certificate dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan.

"Memang banyak yang sudah mau beli. Tapi kita belum berani lakukan kontrak. Karena kita harus yakin (terlebih dahulu) pesawatnya sesuai apa yang akan saya deliver nantinya. Ini kan masih perlu tes-tes untuk perbaikan," ujarnya.

Untuk diketahui, pesawat N219 dirancang menerbangi daerah terpencil dengan kapasitas penumpang 19 orang. Pesawat karya anak bangsa ini juga bisa digunakan untuk mengangkut penumpang sipil, militer, barang, evakuasi medis hingga bantuan saat bencana alam.

Pesawat ini mampu mengangkut beban hingga 7.030 kg saat take off dan 6.940 kg saat mendarat. Kecepatan pesawat N219 bisa mencapai 210 knot dengan kecepatan ekonomisnya 190 knot.

Dapur pacu pesawat ini dilengkapi dengan dua mesin Pratt dan Whitney Aircraft of Canada Limited PT6A-42 masing-masing bertenaga 850 SHP dilengkapi dengan Hartzell 4-Blade Metal Propeller.

  detik  

Wednesday, 23 August 2017

Uji Terbang Kedua N219 Sukses

✈ Uji terbang kedua pesawat N-219 ]Detik]

Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kembali sukses menjalani flight tes (uji terbang) untuk kedua kalinya. Uji terbang kedua ini sebagai rangkaian untuk memenuhi waktu 300 jam yang harus dipenuhi agar mendapat Type Certificate.

Uji terbang Pesawat N219 kali ini sejatinya disaksikan oleh sejumlah menteri yaitu Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, Menteri Ristek dan Dikti, Mohamad Nasir, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, dan Menteri BUMN Rini Soemarno.

Namun para menteri tersebut tidak jadi hadir lantaran harus melaksanakan rapat bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta. Meski begitu, uji terbang kedua Pesawat N219 tetap berlangsung dan berjalan sesuai rencana.

Peswat karya anak bangsa ini lepas landas sekitat pukul 09.15 WIB di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu (23/8/2017). Selama kurang lebih 30 puluh menit Pesawat N219 terbang berputar-putar di langit Kota Bandung.

Kapten penerbang Esther Gayatri Saleh yang kembali dipercaya untuk menjadi pilot dalam pengujian kedua ini menyatakan semua berjalan dengan baik. Tidak ada satu kendala apapun dari pesawat sehinga dari mulai take off sampai landing tidak ada masalah dan berjalan mulus.

"Tadi ketinggian pesawat sampai 8.000 meter. Ini ketinggiannya sama seperti waktu tes sebelumnya," kata Esther usai melakukan uji terbang.

Dia menuturkan dari dua kali uji terban yang telah dilakukan pihaknya mengaku telah mendapat sejumlah data untuk mengetahui sejauh mana progres dari Pesawat N219. Tapi dia optimistis tahun depan N219 akan bisa mendapat Type Certificate sesuai dengan yang ditargetkan.

"Dua flight ini kita nanti dapat data, nanti kita analisa lagi. Seberapa cepat kita akan (lakukan). Tentu ada catatan-catatan (data teknis) yang perlu kita analisa. Kita akan terus collect data. Ada beberapa tes lagi, lalu kita tentukan waktu untuk tes selanjutnya," kata dia.

  detik  

Tuesday, 22 August 2017

Turki Tertarik Kerja Sama Garap N219

✈️ Untuk Pasar Afrika✈️ Pesawat terbang N-219 [Republika]

Turkish Aerospace Industries, industri pesawat terbang asal turki berminat menjalin kerja sama produksi dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) membuat pesawat N219. Kerja sama produksi antara PTDI dengan Turkish Aerospace Industries dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar di Afrika.

"Turkish Aerospace Industries tertarik kerja sama. Ingin join dengan kita, produksi di mereka dan dijual di Afrika umpamanya," ujar Direktur Produksi PTDI Arie Wibowo saat berbincang dengan detikFinance, Jakarta, Selasa (22/8/2017).

Kerja sama produksi ini dilakukan untuk melebarkan penjualan pesawat N219 ke luar negeri. Pasalnya, jika diproduksi di Bandung, pengiriman pesawat N219 tidak ekonomis.

"Secara logistik kalau saya bikin pesawat di Bandung dan customer di Afrika pesawatnya kan kecil, mau diterbangkan secara logistik enggak memungkinkan. Kalau pakai kapal laut butuh waktu lama, paling bagus kita assembly dekat Afrika supaya deliver langsung dari situ," tutur Arie.

Arie menambahkan, dengan demikian pasar pesawat buatan PTDI, khususnya N219 bisa semakin luas dan diminati banyak negara di dunia.

"Jadi lebih kepada regional marketing dan regional logistiknya lebih memungkinkan, daripada membuat di sini dan mengirim ke seluruh dunia," kata Arie.

Sebelumnya perusahaan Turki, FNSS, juga bekerja sama dengan PT Pindad (Persero) membuat medium tank bernama MT Kaplan. Tank ini mampu melesat hingga 70 kilometer (km) per jam dengan jarak tempuh maksimal sekali jalan 450 km. Medium tank ini juga dilengkapi dengan meriam dengan kaliber 105 mm yang diadopsi dari Cockerill Maintenance & Ingenierie SA Defense dari Belgia dan 7.62 mm Coaxial Machine Gun.

  ✈️ detik  

Friday, 18 August 2017

[Video] N219

Mulai pembangunan hingga terbang perdana Pesawat hasil karya anak bangsa, kerjasama LAPAN dan PT DI telah menyelesaikan uji terbang perdana pesawat multifungsi N219. Pada video dibawah nampak pembuatan pesawat dari pemotongan baja, tes mesin hingga terbang perdana di Bandung. Video diposkan Inoel Arifin.


  Youtube  

Wednesday, 16 August 2017

Keunggulan Pesawat N219 Buatan PT Dirgantara Indonesia

Terbang selama kurang lebih 25 menit https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7ToGhhSlBRlmf9QL4mD3wL1lud1HnAXm75PeSx3cq_vl6epoOJCQeE2nCwTSAq2VdNTQX1QyCobbt5B3bN2UIr0TDHKaqD5j9q1y81R7-tZ6gAKdCmaHvTCD3WllTKxlofADQNxBIii08/s1600/20838876_N219+Maiden+Flight.+Credit+to+Rizky+Aditya.jpgTake off perdana N219 [Rizky AdityaI]

Pesawat N219 karya anak bangsa menjalani uji coba terbang (flight test) perdana, Rabu (16/8). Pesawat ini sukses uji terbang pertama kali dari landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung selama kurang lebih 25 menit.

Pesawat ini dibuat PT Dirgantara Indonesia bekerjasama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Direktur Utama PTDI Budi Santoso mengatakan pesawat ini memiliki kelebihan sebagai jenis pesawat ringan yang cocok dioperasikan di daerah perintis. "Jadi pesawat ini direncanakan sebagai pesawat perintis. Di Papua, di Kalimantan butuh banyak seperti ini. Pesawat ini memang akan kita pasarkan di daerah yang terpencil," kata Budi usai first flight Pesawat N219 di Hanggar Fix Wings PTDI, Rabu (16/8).

Menurutnya pesawat ini didesain untuk 19 penumpang. Dengan dua mesin turboprop yang mengacu kepada regulasi CASR Part 23. Ide dan desain dari pesawat dikembangkan oleh PTDI dengan pengembangan program dilakukan oleh PTDI dan LAPAN.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJia6RkLdXjsuMOH8gyyGutR7YrCPmcTzKzsCT8CsTPkq2EFs8c5y0KjSIGFhmQcoOrvuBkUa-GIqgxJ6INFkpJxlU5EEAcR7DOuix-sdPx3k2jjXI8hhTMTyEpdsESB8lSgz2bC4F1Hau/s1600/desain-pesawat-N219-e1502895010779.jpgPurwarupa pesawat pertama N 219 ditenagai sepasang engine pratt and whitney PT6A-52 dengan kemampuan 850 shp dan daya jelajahnya 1580 NM kecepatan maksimum 213 knots.

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin menambahkan kelebihan pesawat N219 ialah memudahkan beroperasi di daerah perbukitan. Serta yang memiliki landasan udara pendek. "Ini ditargetkan untuk landasan pendek yang kontur buminya menyulitkan. Dia bisa bermanuver dengan kecepatan rendah sehingga di daerah perbukitan bisa digunakan dengan baik," ujar Thomas.

Ia pun berharap ke depannya pesawat N219 dapat digunakan secara massal untuk membantu transportasi masyarakat khususnya di daerah pedalaman. "Harapan utama kami, pesawat N219 dapat terus digunakan dan menjadi salah satu ekonomi sebagai alat transportasi untuk konektivitas di daerah-daerah terpencil. Kami akan terus berupaya memberikan yang terbaik bagi pesawat kedepanny sehingga bangsa Indonesia dapat terus dengan bangga menggunakan hasil karya bangsanya sendiri," tuturnya.

 Berikut delapan keunggulan lainnya pesawat N219 : 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnUaRNGaDPJ1aIaGuwBsNsRKs3uE-lgffBTp8lJMEusk067o-N5PpC2mYmCPsj7XMMoz0K47lG__Ae95sk1zksO4fU3-iA8HYZd8Q28NbCqHYIsgUIhMltDywJ2HRB6HBkYfV98eTbooI4/s1600/N219+Maiden+Flight.jpg1. Purwarupa pesawat pertama N219 didesain sesuai dengan kebutuhan masyarakat terutama wilayah perintis, sehingga memiliki kemampuan short take off dan landing mudah dioperasikan di daerah terpencil, bisa self starting tanpa bantuan ground support unit.

2. Menggunakan teknologi yang sudah banyak ditemui di pasaran atau menggunakan, common technology sehingga harga pesawat bisa lebih murah dengan biaya operasi dan pemeliharaan yang rendah.

3. Menggunakan teknologi avionik yang lebih modern dan banyak digunakan di pasaran yakni Garmin G-1000 dengan Flight Management System yang d dalamnya sudah terdapat Global positioning System (GPS). sistem Autopilot dan Terrain Awareness and Warning System.

4. Memiliki kabin terluas di kelasnya dan serbaguna untuk berbagai macam kebutuhan seperti pengangkut barang, evakuasi medis pengangkut penumpang bahkan pengangkut pasukan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkAQ7-tIk0kiCvYEA-dy1iaBcD6BLSCdRi3E0aLRL1FVCd5HqBgWp_8TwvYOqQxrpWphE5Kbi3zeUy4PG2YYcmruqxkrdaLCUyxlU68OnlsaZuk8evDft3WEABGdwKyEMgNKFctrT5DDOi/s1600/d7daef28-N219.jpg5. Multihop Capability Fuel Tank teknologi yang memungkinkan pesawat tidak perlu mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya.

6. Purwarupa pesawat pertama N219 memiliki kecepatan (speed) maksimum mencapai 210 knot, dan kecepatan terendah mencapai 59 knot, artinya kecepatan cukup rendah namun pesawat masih bisa terkontrol, ini sangat penting terutama saat memasuki wilayah yang bertebing-tebing, di antara pegunungan-pegunungan yang membutuhkan pesawat dengan kemampuan manuver dan kecepatan rendah.

7. Purwarupa pesawat pertama N219 dilengkapi dengan Terrain Awareness and Warning System, seperangkat alat yang bisa mendeteksi bahwa pesawat ini sedang menuju kepada atau mendekati wilayah perbukitan, sistem pesawat akan memberikan tanda, visualisasi secara dimensi sehingga pilot secara langsung tahu kondisi perbukitan yang akan dilaluinya.

8. Purwarupa pesawat pertama N219 memiliki nose landing gear dan main landing gear tetap atau tidak dapat dimasukan ke dalam pesawat saat terbang sehingga akan memudahkan pesawat melakukan pendaratan di landasan yang tidak beraspal bahkan berbatu serta akan mengurangi biaya pemeliharaan.

  Republika  

[Video] Uji Terbang Perdana N219

✈ Karya Anak Bangsa Pesawat rancangan anak bangsa ini N219 take off dari Bandara Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu (16/8/2017) dari pukul 09.00-10.00. Penerbangan perdana N219 ini berlangsung sukses.

 Berikut video liputan CNN dari Youtube : 


  CNN  

PT DI Bersiap Garap N245 dengan Lapan

✈ Setelah N219 ✈ Maket N245 [PTDI]

PT Dirgantara Indonesia dan Lapan bersiap mengembangkan proyek pesawat N245 yang telah dicanangkan pemerintah sebagai program tambahan proyek strategis nasional pada Perpres 58 Tahun 2017. Hal itu dilakukan setelah PT DI melakukan uji terbang pertama pesawat N219.

Saya harapkan dengan ‘first-flight’ N219 ini pemerintah akan membantu kita untuk program N245. Lapan juga serius membantu kita. Kita akan bekerjasama mencari sebagian biaya pengembangannya dari pemerintah, sbagian lagi dari partner kerja sama,” kata Direktur Utama PT DI Budi Santoso di Bandung, Jawa Barat, Kamis, 16 Agustus 2017.

Budi mengatakan, proyek pesawat N245 ini sudah disiapkan PT DI sebagai pengembangan dari pesawat N235. “Kita memanfaatkan yang mungin bisa kita pakai di pesawat N235. Mungkin 80 persen akan sama, hanya 20 persen sampai 30 persen beda, dan kita bisa mendapatkan pesawat komersial,” kata dia.

Menurut Budi, pesawat N245 itu nantinya disiapkan murni sebagai pesawat komersial untuk mengangkut penumpang. “Kalau N235 itu lebih baik untuk pesawat militer dan spesial kargo. Kalau untuk pesawat komersial bisa N245, dengan terget (bisa beroperasi pada) runway di bawah 800 meter, dan masih bisa landing di ‘unprepare-land’ di landasan rumput dan lain-lain,” kata dia.

Budi mengatakan, pesawat N245 dirancang sebagai pesawat berbaling-baling untuk mengangkut penumpang dan berada di bawah versi pesawat penumpang ATR72. “Kita akan masuk ke daerah 50 penumpang. Teman0-teman mendisain kira-kira untuk 54 penumpang. Karena saya senang bolak-balik angka, saya jadikan saja 45 (N245),” kata dia.

PT DI saat ini akan memulai pembuatan rancangan disain pesawat itu. “Baru disain. Kita akan mulai di wind tunnel,” kata Budi.

Budi mengatakan, sejumlah perusahaan industri pesawat di luar negeri sudah menyatakan ketertarikannya untuk bekerja sama membuat pesawat N245. Tapi dia masih enggan merincinya. “Kira-kira 6 bulan lagi saya cerita. Saya masih cari partner yang tertarik. Ada yang sudah tertarik tapi belum hitung-hitungan uangnya. Kalau yang tertarik banyak,” kata dia.

Kepala Lapan Thomas Djamaludin membenarkan lembaganya tengah bekerja sama dengan PT DI untuk proyek pengembangan pesawat N245. “Setelah ini, kita mengupayakan pengembangan pesawat jenis berikutnya, N245. Spesifikasinya untuk kelas menengah dengan muatan sekitar 50 penumpang,” kata dia di Bandung.

  Tempo  

Monday, 14 August 2017

[Video] Process Pembuatan N219

✈ Mulai awal pembuatan pesawat sampai test run Berikut video pembuatan pesawat N219 hasil kerjasama Lapan dan PT DI, diambil dari Youtube.


  Youtube  

Mengenal Rhan 450

Roket Balistik RI Berdaya Jelajah 150 KmRHAN 450, menjadi salah satu dari sekian jenis roket yang diproduksi anak bangsa yang terus dikembangkan kemampuannya. (Dok Kemenhan) ★

Indonesia tengah gencar memproduksi berbagai macam alutsista demi mewujudkan kemandirian bangsa. Salah satu alutsista yang tengah dikembangkan adalah roket balistik jarak jauh.

RHAN 450, menjadi salah satu dari sekian jenis roket yang diproduksi anak bangsa yang terus dikembangkan kemampuannya.

Roket balistik ini tengah dikembangkan Balitbang Kementerian Pertahanan dan Konsorsium Roket Nasional, yang terdiri dari PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Dahana (Persero), PT Pindad (Persero) dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Dikutip Liputan6.com dari beberapa sumber, RHAN 450 pertama kali menjalani uji statis pada 21 Agustus 2014 yang berlangsung di Lapangan Sonda LAPAN, Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat.

Saat masa pengujian awal, RHAN 450 ini bernama RX-450. Roket ini akhirnya pertama kali diluncurkan dalam masa uji coba pertama pada Mei 2015 dengan jarak jelajah saat itu mencapai 100 kilometer, dan sukses.

Namun seiring pengembangannya, Konsorsium Roket Nasional menggandeng Lapan dalam meningkatkan kemampuan RX-450.

Terakhir, roket ini kembali diuji coba pada Desember 2016. Dalam uji coba itu, jarak jelajah roket ini meningkat menjadi 150 km. Uji coba saat itu RX-450 sudah berubah nama menjadi RHAN 450.

Dengan perubahan nama ini, berarti roket balistik ini sudah siap memasuki tahap produksi. Dengan demikian, RHAN 450 akan melengkapi produksi roket Indonesia lainnya seperti RHAN 122 yang memiliki jarak jelajah 40-50 km.

Selain berperan sebagai roket balistik untuk kepentingan militer, basis RHAN 450 juga direncanakan sebagai bagian dari roket bertingkat yang akan digunakan sebagai Roket Pengorbit Satelit (RPS).

RHAN 450 dapat membawa payload seberat 50 kg – 100 kg, bisa diartikan payload sebagai hulu ledak bila roket ini difungsikan alutsista artileri medan.

RHAN 450 adalah tipe roket balistik dengan panjang total 6.110 mm, panjang motor 4.459 mm, berat total 1.500 kg, berat muatan 100 kg, gaya dorong 12895 kg, dan menggunakan bahan bakar propelan komposit.

  Liputan 6  

Thursday, 10 August 2017

Penampakan Tes Terbang Perdana N219

✈ Di Bandung ✈ Pesawat N219 bersiap terbang [Info Penerbangan]

Pesawat besutan PT. Dirgantara Indonesia N219 sudah mulai melakukan rangkaian test. Hari Rabu (9/8/2017 beredar dibeberapa akun sosial media penampakan perdana pesawat yang sedang melakukan uji coba di landasan pacu bandar udara Husein Sastranegara.

Uji coba yang dilakukan adalah highspeed taxi dan diikuti dengan nose lift off. Nampak N219 melewati tahapan ini dengan mulus dan lancar.

Diyakini uji coba perdana ini dilakukan oleh Capt. Ester Gayatri Saleh dan Copilot Ade Bayu dan berapa teknisi didalamnya.

infopenerbangan belum mendapatkan keterangan resmi dari PT. DI terkait adanya test flight perdana hari ini. Dari informasi yg dihimpun, uji coba akan dilanjutkan hari ini Kamis (10/8/2017).

  Info Penerbangan  

Wednesday, 2 August 2017

N-219 PTDI Jalani Tahap “Medium Speed Test”

Peresmian N219 di Bandung (PT DI) ★

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan pengembangan pesawat N-219 yang dikembangkan bersama oleh PT Dirgantara Indonesia dan LAPAN saat ini memasuki tahap “medium speed test”.

N-219, sekarang sudah masuk tahap medium speed test, sudah keluar hanggar. Layak terbang tapi masih uji jalan,” kata Nasir usai membuka The 6th International Eijkman Conference di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, seminggu yang lalu pesawat multi fungsi bermesin dua yang didesain untuk dioperasikan di daerah-daerah terpencil ini sudah sempat terbang sekitar 10 hingga 15 menit.

Saya ingin cek itu untuk pastikan N-219 sudah bisa terbang. Mudah-mudahan 2017 jadi tahun kebangkitan kedirgantaraan Indonesia,” ujar Nasir.

Pesawat yang terbuat dari logam dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo ini dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23, dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel yang memastikan bahwa pesawat ini bisa dipakai untuk mengangkut penumpang dan juga kargo.

Pesawat ini 100 persen hasil penelitian orang Indonesia, tapi sebagian materialnya didatangkan dari luar negeri. Sayapnya 100 persen dalam negeri dan bisa diproduksi jika pesawat sudah mulai produksi,” katanya.

Pesawat yang bisa menampung 19 orang ini dirancang untuk bisa mendarat di landas pacu relatif pendek antara 500-600 meter. Jika mendesak, pesawat ini bahkan bisa didaratkan di jalan raya.

Pesawat N-219 telah dipamerkan kepada masyarakat, banyak perusahaan asal Benua Afrika yang siap untuk membeli pesawat itu.

Bahkan, ada salah satu perusahaan asal Nigeria yang menawarkan proses “assembling” dilakukan di negaranya.

  Antara  

Saturday, 29 July 2017

LAPAN dan PTDI Lakukan Uji Terbang Rute dan Uji Coba Landasan Rumpin

✈ Sambut First Flight N-219 ✈ Pesawat Kodiak 100 mendarat di runway 32 Rumpin Airfield

Rencana First Flight Pesawat N-219 yang tinggal menunggu hari, merupakan momen bersejarah yang patut di persiapan dengan matang, salah satunya adalah mencari alternatif lokasi pendaratan perdana di luar kota Bandung. Salah satu kandidat adalah landasan Rumpin yang berada di dekat lingkungan kantor Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN yang merupakan satker yang menangani langsung program pengembangan pesawat N-219 ini.

Pengujian kelayakan dan kesiapan landasan Rumpin untuk didarati pesawat N-219 dilaksanakan menggunakan pesawat chaser Kodiak 100 (pabrikan Quest Aircraft, USA). Pesawat 8-10 penumpang ini melakukan take-off dari landasan Udara Husein Sastranegara Bandung dan landing di Landasan Udara Rumpin (Rumpin Airfield) pada Sabtu yang lalu, (17/6/2017).

Kru yang melaksanakan penerbangan berjumlah 2 orang, Test Pilot Pesawat N-219 Captain Esther Gayatri dan Kapten Ervan, pilot dari TNI-AL. Penumpang yang turut serta dalam uji rute ini adalah Kepala Program Pesawat N219 LAPAN Ir. Agus Aribowo M.Eng dan Pilot Pustekbang Febri K.A Siahaan ST. Pesawat started engine pada pukul 08.05 WIB dan taxi menggunakan taxiway “G”. Adapun runway yang digunakan adalah nomor runway “29”. Pesawat airborne pada pukul 08.16 WIB dengan ketinggian 8500 ft. Setelah terbang menempuh waktu 31 menit, pesawat kemudian landing pada 08.47 WIB diatas runway 32.

Setelah mendarat, dilaksanakan backtrack dan lining up dari runway 14, dimana pesawat akan take off berlawanan arah dari arah landing. Hal ni dimaksudkan untuk menghemat waktu proses taxiing agar pesawat dapat segera take off kembali. Setelah pesawat mendapatkan clearance dari Pemandu Lalu Lintas Udara, pesawat take off dari landasan Rumpin pada pukul 08.50 WIB.

Setelah pesawat kembali take off, maka penerbangan pun dilanjutkan menuju Bandung dengan menggunakan rute yang hampir sama, namun dengan ketinggian jelajah 7500 ft. Pesawat berhasil mendarat pada pukul 09.39 WIB di bandara Husein Sastranegara. Adapun block time penerbangan dari Bandung-Rumpin-Bandung adalah 1 jam 29 menit. Setelah mendarat, dilakukan briefing terkait uji rute dan uji pendaratan di landasan rumpin, dan dalam beberapa hari ke depan akan dilaporkan hasil analisa teknis dengan mendapat input dari ground crew yang telah melakukan check lapangan dan laporan tertulis pilot sebagai masukan.

  LAPAN  

Thursday, 8 June 2017

PTDI Masih Tunggu Investor

✈ Bikin Pesawat N245 http://www.ainonline.com/sites/default/files/styles/ain30_fullwidth_large_2x/public/uploads/2016/11/atp_n245_pic.jpg?itok=sURMtQN1&timestamp=1478705948✈ N245  [David Donald]

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) masih menunggu dana segar untuk memulai pembuatan pesawat N245. Pesawat N245 masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) tahun ini.

Pesawat N245 yang merupakan pengembangan dari CN235 yang pernah dibuat oleh PTDI dengan perkiraan biaya sekitar US$ 200 juta.

"Belum ada (komitmen pendanaan). Masih belum ada (investor) sampai saat ini," jelas Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (8/6/2017).

Arie menambahkan, pengembangan N245 dibutuhkan payung hukum berupa Peraturan Presiden (Perpres). Sehingga ada jaminan kepada investor akan keberlangsungan proyek ini.

"Sepertinya demikian (masih menunggu payung hukum)," ujar Arie.

Pasalnya jika sudah dikategorikan sebagai PSN, PTDI tidak semata-mata menunggu pendanaan dari pemerintah. Melainkan mencari alternatif pendanaan dari investor.

"Karena walaupun sudah dikategorikan PSN, namun pendanaannya kan harus mencari sendiri bukan diberikan pemerintah," tutur Arie.

 Belum Ada Pendanaan 

Pengembangan pesawat N245 sampai saat ini belum dilakukan karena masalah pendanaan. PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) masih menunggu dana segar dari investor untuk memulai pengembangan pesawat yang masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo mengungkapkan dengan belum adanya komitmen pendanaan, maka penerbangan perdana N245 diperkirakan mundur dari rencana di 2020.

"Tentu nya akan bergeser (dari 2020) sesuai ketersedian dana," ujar Arie kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (8/6/2017).

Untuk menarik minat investor asing menanamkan modalnya untuk mengembangkan pesawat N245, Arie menambahkan, pihaknya masih menunggu payung hukum dari pemerintah berupa Peraturan Presiden (Perpres).

Selain itu, komitmen pendanaan dari pemerintah juga diperlukan untuk memacu investasi dari swasta. Sehingga investor yakin menanamkan uangnya untuk mengembangkan N245.

"Harus ada komitmen finansial pemerintah dalam mendanainya sebagian kemudian pihak swasta atau asing baru akan tertarik melakukan investasi," tutur Arie (ang/ang)

  detik