Peta Desa Temajuk (Istimewa) ●
Puluhan warga perbatasan menggarap lahan yang ternyata masuk wilayah teritorial Malaysia. Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) TNI mengingatkan warga agar berhati-hati sampai akhir tahun. Soalnya, militer Malaysia tak ragu-ragu menembak pelanggar batas.
Permasalahan pelanggaran batas negara Malaysia ini diceritakan oleh Komandan Satgas Pamtas Batalyon Infranteri 131/Braja Sakti Letkol Inf Denny, Senin (17/7/2017) di Pos Komando Taktis, Jl Lintas Malindo, Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Lokasinya di Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Daerah itu berbatasan dengan wilayah Malaysia, termasuk bagian Samunsam Wildlife Sanctuary Sarawak.
“Awalnya ada komplain dari Malaysia bahwa ada orang yang melanggar batu sempadan, itu istilah Malaysia untuk menyebut patok perbatasan,” kata Denny.
Pada 7 Maret 2017, Komandan Korem 121/Alambhana Wanawai (Danrem 121/Abw) yang saat itu menjabat, Brigjen TNI Widodo Iryansyah, menerima surat dari pihak Tentara Diraja Malaysia, yakni dari Panglima Briged Ketiga Infanteri Malaysia Brigidier Jeneral Mohd Bustaman Mat Zin. Surat itu adalah surat peringatan bahwa ada puluhan warga Dusun Camar Bulan yang membuka lahan di wilayah teritorial Malaysia.
“Kemudian kami, karena kami Satgas di situ, kami mengecek. Masyarakat di situ kami data semua. Ada 31 warga negara Indonesia yang menggarap di tanah Malaysia,” kata Denny.
Satgas Pamtas yang dipimpin Denny membawahi area tugas dari perbatasan di Aruk Sajingan di Kabupaten Sambas hingga di Sei Daun, Kabupaten Sanggau. Panjang perbatasan tersebut adalah 359,45 km. Wilayah Camar Bulan di Temajuk itu termasuk wilayah tugas mereka.
“Setelah kita cek di lokasi, ya betul, kita (warga Indonesia) melanggar,” kata Denny.
Lahan Malaysia yang digarap warga Camar Bulan di antaranya berlokasi di sekitar patok A74 sampai A79. Luasnya bervariasi, berkisar antara 2.000 meter persegi sampai 5.000 meter persegi. Bahkan ada yang sampai 1 hektare dan 2 hektare.
Diskusi dua negara digelar, menghadirkan pihak TNI, bupati, hingga wakil ketua DPRD. Dari pihak Malaysia, hadir juru ukur, polisi dan polisi kehutanan Malaysia, hingga Tentara Diraja Malaysia.
“Semua datang waktu itu, agak banyak,” kata Denny.
Seluruh masyarakat Camar Bulan dikumpulkan. Dikatakan Denny, mereka bisa menerima penjelasan bahwa lahan yang selama ini mereka garap merupakan lahan yang bukan hak mereka, soalnya itu sudah masuk wilayah Malaysia. Selanjutnya pihak Indonesia dan Malaysia berdiskusi.
“Malaysia memberikan toleransi sampai akhir Desember,” kata Denny.
31 Desember 2017 nanti akan menjadi batas waktu maksimal bagi warga yang menanam lada alias sahang untuk beraktivitas di situ. Namun untuk tanaman pohon karet, Denny menyatakan belum ada keputusan batas waktu maksimal karena menunggu keputusan pemerintah pusat Malaysia.
Wilayah itu adalah hutan yang tidak dikelola langsung oleh warga Malaysia. Warga tidak tahu bahwa itu sudah masuk wilayah Malaysia, sehingga mereka masuk dan membuka ladang lada serta menanam pohon karet. Kabarnya, warga sudah berkebun di lokasi itu sejak 2006.
Denny bisa memahami bahwa cara penegakan hukum tentu berbeda-beda antara negara satu dan yang lainnya. Malaysia sudah memberi batas waktu. Maka diharapkan, warga Indonesia bisa menghentikan aktivitas berkebun lada di wilayah itu. Konsekuensi fatal berisiko terjadi bila peringatan batas waktu itu dilanggar.
“Malaysia memberi ultimatum sampai Desember. Tapi, kalau masyarakat nggak ngikuti, bahaya! Takutnya nanti ditembak di tempat. Karena aturan Malaysia, melanggar maka ditembak. Di Malaysia beda dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia kita tangkap, tapi kalau di Malaysia, apalagi kalau sudah diultimatum, dia (aparat Malaysia) akan menembak,” kata Denny mewanti-wanti.
20 Agustus, Yonif 131/Braja Sakti yang dikomandani Denny selesai bertugas sebagai Satgas Pamtas di Entikong dan pulang ke markas di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Tugas penjagaan perbatasan selanjutnya diteruskan oleh Batalyon Infanteri 642/Kapuas. Denny berpesan agar Satgas Pamtas selanjutnya segera memberi pemahaman kepada warga Camar Bulan agar tidak terjadi bahaya. Bila warga Indonesia tetap menanam lada di wilayah Malaysia setelah 31 Desember, bisa runyam jadinya.
“Kalau perlu, dia langsung bina masyarakat lagi, akhir Desember tidak ada lagi yang mengelola tanah itu. Jangan sampai nanti ada yang kena tembak. Kalau ada yang kena tembak, maka gempar dunia,” tutur Denny.
Ilustrasi kapal Selam A26 [thyssenkrupp] ☆
Sebagai negara kepulauan, Indonesia seharusnya memiliki armada kapal selam. Namun, hingga saat ini hanya tiga unit saja yang bertugas mengawal perairan Indonesia, yakni KRI Cakra, Nenggala dan Nagapasa.
Nama terakhir merupakan kapal selam terbaru yang dibangun bersama antara Korea Selatan-Indonesia. Meski begitu, bagi sebuah negara besar seperti Indonesia, memiliki kapal selam adalah keharusan.
Akan tetapi, teknologi tempur bawah air ini sangatlah kompleks. Dikatakan demikian, karena harus memenuhi persyaratan sebagai kapal selam canggih namun aman bagi personel.
Menurut Kepala Pusat Teknologi Saab Kockhums, Roger Berg, ada sejumlah syarat mutlak bahwa kapal selam dikatakan canggih.
“Yang pasti mampu menghadapi tekanan dan menggunakan energi yang ramah lingkungan,” kata Berg kepada VIVA.co.id, Selasa, 29 Agustus 2017.
Cocok untuk Indonesia
Pertama, teknologinya harus anti-radar dan mampu menyerap suara (stealth and signature technology). Kedua, mampu menyelam lama di laut, baik itu mingguan hingga bulanan (long endurence) di samudera.
Ketiga, sistem komunikasi dan persenjataan yang terintegrasi (systems integration). Keempat, mampu menjalankan misi khusus seperti mata-mata (spying) dan pengawasan (surveillance) tanpa terdeteksi lawan.
Kelima, kapal selam harus aman, nyaman dan sehat (survivability). Hal ini mengingat seluruh awak/personel bekerja berbulan-bulan di dalam kapal selam, sehingga mampu bekerja optimal dalam menjalankan misi.
Pada kesempatan yang sama, Chief Engineer Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Mohamad Dahsyat, kapal selam A26 Kelas Gotland milik Swedia sangat cocok dipakai di Indonesia.
Ia berkata demikian, lantaran kapal selam buatan Saab AB itu memiliki teknologi Stirling, yakni menggunakan oksigen cair dan bahan bakar simpanan untuk menghasilkan energi di dalam air.
Teknologi ini membuat A26 mampu bergerak dalam air tanpa muncul ke permukaan hingga 18 hari. “Dari sisi teknologi sangat cocok, baik digunakan di laut dangkal maupun dalam,” kata Dahsyat.
✈️ Untuk Pasar Afrika
✈️ Pesawat terbang N-219 [Republika]
Turkish Aerospace Industries, industri pesawat terbang asal turki berminat menjalin kerja sama produksi dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) membuat pesawat N219. Kerja sama produksi antara PTDI dengan Turkish Aerospace Industries dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar di Afrika.
"Turkish Aerospace Industries tertarik kerja sama. Ingin join dengan kita, produksi di mereka dan dijual di Afrika umpamanya," ujar Direktur Produksi PTDI Arie Wibowo saat berbincang dengan detikFinance, Jakarta, Selasa (22/8/2017).
Kerja sama produksi ini dilakukan untuk melebarkan penjualan pesawat N219 ke luar negeri. Pasalnya, jika diproduksi di Bandung, pengiriman pesawat N219 tidak ekonomis.
"Secara logistik kalau saya bikin pesawat di Bandung dan customer di Afrika pesawatnya kan kecil, mau diterbangkan secara logistik enggak memungkinkan. Kalau pakai kapal laut butuh waktu lama, paling bagus kita assembly dekat Afrika supaya deliver langsung dari situ," tutur Arie.
Arie menambahkan, dengan demikian pasar pesawat buatan PTDI, khususnya N219 bisa semakin luas dan diminati banyak negara di dunia.
"Jadi lebih kepada regional marketing dan regional logistiknya lebih memungkinkan, daripada membuat di sini dan mengirim ke seluruh dunia," kata Arie.
Sebelumnya perusahaan Turki, FNSS, juga bekerja sama dengan PT Pindad (Persero) membuat medium tank bernama MT Kaplan. Tank ini mampu melesat hingga 70 kilometer (km) per jam dengan jarak tempuh maksimal sekali jalan 450 km. Medium tank ini juga dilengkapi dengan meriam dengan kaliber 105 mm yang diadopsi dari Cockerill Maintenance & Ingenierie SA Defense dari Belgia dan 7.62 mm Coaxial Machine Gun.
✈ Dengan Pilot Esther Gayatri Saleh
✈ Pesawat N219 yang diterbangkan Captain Esther Gayatri Saleh melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan. N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi Avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil. [ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra]
Hari ini, Rabu (16/8/2017), menjadi hari bersejarah bagi Indonesia. Sekitar pukul 09.10 WIB, pesawat N219 hasil kerja sama LAPAN dan PTDI sukses melakukan uji terbang perdana.
Penerbangan perdana N219 dilakukan di bandara Husein Sastranegara, Bandung. N219 dengan nomor registrasi PK-XDT terbang dengan mulus, dan sukses melakukan serangkaian uji coba terbang, seperti kontrol kemudi dan navigasi.
Kapten penerbang Captain Esther Gayatri Saleh menjadi pilot utama dalam uji terbang tersebut didampingi kopilot Kapten penerbang Adi Budi Atmoko.
Pesawat N219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017).
Disiagakan pula dua orang flight test engineer yang bertugas memastikan setiap tahapan pengujian terbang dilaksanakan dengan baik dan terjamin keselamatannya.
Dalam uji terbang tersebut, pesawat melintas dan berputar-putar di sekitar kawasan Batujajar dan Cililin. Pesawat dipastikan terbang dalam rute aman dan tidak melintasi permukiman padat penduduk.
Dalam uji terbang perdana ini, pesawat N219 juga secara khusus dipasangi empat kamera pada bagian ekor, sayap, dan perut pesawat yang terhubung langsung ke ruang kontrol di PT DI.
Pesawat N219 yang diterbangkan Captain Esther Gayatri Saleh mendarat seusai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan. N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi Avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil.
Selain itu, juga dipasang 150 sensor untuk merekam semua parameter penerbangan N219, mulai dari sensor temperatur hingga sensor stress.
Purwarupa pesawat pertama N219 hasil karya anak bangsa ini terbang perdana setelah mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan.
Captain Esther Gayatri Saleh berpose di samping pesawat N219 di Hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), usai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017). [ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra]
N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang, berteknologi avionik, untuk dioperasikan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil.
Captain Esther Gayatri Saleh tampak riang berpose disamping pesawat N219 di Hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), usai melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8). (Reska K Nistanto dan Putra Prima Perdana)
Pesawat N219 Terbang Mulus
Pesawat N-219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017). [KOMPAS.com/Putra Prima Perdana]
Pesawat N219 hasil pengembangan riset PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjalani uji terbang dengan mulus, Rabu (16/8/2017).
Pesawat karya anak bangsa tersebut lepas landas dari Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, sekira pukul 09.15 WIB dan berputar-putar di langit Bandung dan mendarat sekitar pukul 10.00 WIB.
Kapten penerbang Esther Gayatri Saleh menjadi pilot utama dalam uji terbang tersebut didampingi kopilot Kapten penerbang Adi Budi Atmoko.
Disiagakan pula dua orang flight test engineer yang bertugas memastikan setiap tahapan pengujian terbang dilaksanakan dengan baik dan terjamin keselamatannya.
"Tes flight ini dilakukan setelah kita melakukan berbagai tes dan persiapan," kata Asisten Khusus Pengembangan Pesawat Terbang PT D Andi Alisjahbana di sela uji terbang, Rabu siang.
Andi menambahkan, dalam uji terbang tersebut, pesawat akan melintasi dan berputar-putar di sekitar kawasan Batujajar dan Cililin. Dia memastikan pesawat terbang dalam rute aman dan tidak melintasi permukiman padat penduduk.
"Pesawat terbang sekira 40 menit dengan rute ke arah barat dan berputar di sekitar Batujajar," ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, orang-orang yang berada di dalam pesawat telah diberikan bekal untuk meminimalisasi kemungkinan terburuk terjadi dalam uji terbang.
"Salah satunya kita persiapkan peralatan keselamatan, pilot memakai parasut," ungkapnya.
Selain itu, pesawat N219 juga secara khusus dipasangi empat kamera pada bagian ekor, sayap, dan perut pesawat yang terhubung langsung ke ruang kontrol di PT DI.
"Dari situ bisa kelihatan apakah pesawatnya goyang atau tidak. Ada juga dipasang sensor temperatur, sensor stress, kalau tidak salah semuanya ada sekira 150-an sensor dan semuanya direkam," tuturnya.
Dibanderol Rp 3 Miliar
Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mampu menciptakan radar maritim generasi ke 4. Generasi ini menjadi generasi tercanggih dari radar-radar yang telah diproduksi dalam negeri.
Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Muhammad Dimyati mengungkapkan pengembangan radar ini dilakukan sejak 2015 dengan memakan biaya Rp 2,4 miliar.
"Radar karya anak bangsa ini memiliki beberapa keunggulan, salah satunya tidak mudah terdeteksi alat pendeteksi radar yang biasanya terpasang di kapal-kapal," kata Dimyati di di Kantor Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok Jakarta, Senin(31/7/2017).
Tidak hanya itu, kelebihan lain dari radar ini juga memiliki harga yang lebih murah. Hal ini karena setidaknya mengandung komponen dalam negeri mencapai 70 persen.
Jika dibandingkan dengan radar jenis yang sama yang diproduksi oleh berbagai negara di dunia, kualitas yang dihasilkan ilmuan dalam negeri ini tidak jauh berbeda.
"Kalau diproduksi secara komersial nanti harganya sekitar Rp 3 miliar. Tapi kalau fungsinya untuk kepentingan militer, lebih kompleks lagi, ini harganya bisa lebih mahal 2-3 kali lipat. Tapi jika dibandingkan yang diproduksi negara lain harganya ini hanya sepertiganya," ujar dia.
Hanya saja, jika dibandingkan produksi luar negeri tersebut, kelemahan produk ini adalah dalam hal pengemasan. "Kalau dari luar negeri kan kabelnya sudah rapi, kalau kami belum. Nanti kami bisa rapikan sambil berjalan," tegas Dimyati.
Ia menuturkan, radar ini akan sangat berpengaruh dalam menjaga kedaulatan maritim di Indonesia. Dari kajian yang dimilikinya, untuk pertahanan dan militer, setidaknya TNI masih membutuhkan radar ini dengan jumlah mencapai ribuan. (Yas)
Prototipe Radar LPI Dari Kemenristekdikti
Kementerian Perhubungan menerima hibah Prototipe Radar LPI (Low Probability of Intercept) untuk Maritim dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Acara serah terima secara simbolis diserahkan oleh Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati kepada Sesditjen Perhubungan Laut Kemenhub Dwi Budi Sutrisno yang disaksikan oleh Sekretaris Jenderal Perhubungan Sugihardjo di Kantor Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok pada Senin (31/7).
“Hari ini kita menyaksikan penyerahan radar maritim yang diproduksi dan dikembangkan oleh Riset Dikti. Pada prinsipnya kami dari Kemenhub sangat menyambut baik karya anak bangsa didalam bidang teknologi dalam hal riset dan pengembangan khususnya penggunaan lokal konten. Ini tentu membanggakan lebih dari 70% lokal kontennya,” jelas Sugihardjo yang biasa dipanggil Jojo.
Jojo juga menjelaskan Radar LPI ini sudah digunakan pada periode arus mudik lebaran 2017 yang lalu.
“Radar LPI ini telah diujicoba dan digunakan oleh Kemenhub pada saat angkutan lebaran kemarin dengan penempatan di Pelabuhan Merak Banten dan sangat membantu operasional Vessel Traffic Services Merak untuk memantau lalu lintas kapal.” ujar Jojo.
Sedangkan Muhammad Dimyati menambahkan, radar prototipe LPI ini merupakan hasil karya anak bangsa yang dapat dipergunakan untuk mendukung kemajuan dunia maritim Indonesia.
“Ini salah satu hasil yang dipersembahkan oleh teman-teman peneliti kepada bangsa. Radar ini merupakan adalah alat generasi keempat yang dikembangkan mulai tahun 2015 dengan total biaya riset sebesar 2,4 milyar. Kelebihan radar ini antara lain tidak mudah dideteksi oleh alat pendeteksi radar, menggunakan bandwith yang lebih hebat, murah dan pemeliharaannya juga gampang. Alat ini dapat digunakan untuk mendukung keamanan wilayah laut kita yang begitu luas sekaligus menopang kelancaran arus barang dan jasa," jelas Dimyati.
Lebih lanjut Jojo meminta Radar LPI ini dapat dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan maritim terutama untuk menunjang keselamatan pelayaran.
“Khususnya untuk teman-teman Perhubungan Laut di bagian navigasi semoga keberadaan radar ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam menunjang keselamatan pelayaran di Selat Sunda karena sebelumnya kita sudah mendeklarasikan bahwa Indonesia mampu melakukan pemanduan di Selat Malaka yang didukung dengan teknologi,” terang Jojo.
Kedepan Jojo berharap pengembangan radar di Indonesia dapat mengikuti perkembangan teknologi.
“Kami berharap agar ke depan pengembangan radar di Indonesia dapat mengikuti perkembangan teknologi, sesuai dengan International Association of Marine Aids to Navigation and Lighthouse Authorities (IALA) Recommendation V.128,” tutup Jojo. (LFH/TH/BS/JAB)
Libatkan ITB Untuk pengembangan kedepan
Desain pesawat tempur KFX/IFX [Mildom] ★
Dalam meningkatkan kemampuan industri pertahanan nasional dan kemandirian teknologi nasional terkait dengan kemampuan memelihara dan mengembangkan pesawat tempur, Pemerintah Indonesia melalui Kemhan RI dan Pemerintah Republik Korea melakukan kerjasama pengembangan pesawat jet tempur generasi 4.5.
Pengembangan pesawat jet tempur jenis KF-X/IF-X ini merupakan implementasi kerjasama strategis antara Pemerintah RI dalam hal ini PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) dan Pemerintah Korea Selatan, yang ditandatangani pada 2006 lalu. Hal tersebut terungkap dalam acara jumpa pers antara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemhan RI Dr. Ir. Anne Kusmayati, M.Sc dengan awak media yang di Balai Media Kemhan, Jumat (28/7).
Pengembangan pesawat tempur secara mandiri lebih menguntungkan karena desain pesawat yang dibuat dapat menyesuaikan dengan persyaratan operasional dari PT DI. Kini, program tersebut masih dalam tahap peningkatan kesiapan teknologi PT DI untuk melakukan Engineering Manufacture Development (EMD).
Rencananya, KF-X/IF-X akan diluncurkan pada tahun 2021 untuk mendapat sertifikasi rancang bangun. Paling lambat pada tahun 2026, prototype atau purwarupa akan dioperasikan untuk memastikan pesawat dapat terbang dan bermanuver dengan baik, sesuai spesifikasi operasional.
[Sheldon]
Program pengembangan pesawat jet tempur KF-X/IF-X ini akan menjadi titik bangkit Indonesia dalam kemandirian industri pertahanan karena secara langsung akan mempengaruhi peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM), fasilitas dan infrastruktur PT. DI selaku industri pertahanan nasional dalam bidang kedirgantaraan.
Saat ini PT. DI telah mengirimkan 81 tenaga ahli ke Korean Aerospace Industry (KAI) di Sacheon City untuk mendapatkan pembekalan tentang sistem dan standar prosedur kerja di KAI. Disamping memperkuat PT. DI selaku industri pertahanan nasional yang akan terlibat langsung sebagai sub bagi KAI, Kemhan RI juga melakukan kerjasama dengan ITB dan Cranfield University untuk program post graduate dan program doktoral dalam rangka untuk melakukan pengembangan dan prototype.
Saat ditemui awak media dalam jumpa pers yang dimoderatori Kapuskom Publik Brigjen TNI Totok Sugiharto, S.Sos, Kabalitbang mengungkapkan bahwa dari segi biaya reparasi, memproduksi pesawat tempur sendiri lebih murah. Karena dapat menekan biaya operasional yang mencakup biaya produksi dan komponen, selain itu, akan lebih mudah dalam urusan perawatan (maintenance), perbaikan (repair), dan pembaharuan (upgrade) karena dapat dilakukan sendiri.
Sementara, urusan modifikasi dan integrasi persenjataan juga mudah karena tidak perlu menunggu persetujuan dari produsen pesawat dan rencananya pesawat tempur ini nantinya akan dipasarkan ke negara-negara Asia Pasifik. (ERA/RAF) ♞ Kemhan