Showing posts with label DI. Show all posts
Showing posts with label DI. Show all posts

Monday, 11 September 2017

Pesawat N219 Harus Lolos 3 Tes

Sebelum Diproduksi MassalUjiterbang N219 PTDI

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan pesawat N219 baru bisa diproduksi massal setelah PT Dirgantara Indonesia (Persero) menyelesaikan serangkaian tes. Pesawat hasil kerja sama LAPAN dan PTDI resmi melakukan uji terbang perdana pada Agustus lalu.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Agus Santoso, mengungkapkan ada 3 tes yang harus dilewati N219 sebelum digunakan sebagai pesawat komersial dan diproduksi massal.

"Jadi harus ada tahapan yang ditunjukkan mereka hingga mereka dapat sertifikasi. Ada 3 tes yang harus dilewati," kata Agus ditemui di Kemenhub, Jakarta, Kamis (7/9/2017).

Ketiga uji tersebut meliputi tes penerbangan (flight test) selama 500-600 jam, Tes olah gerak (static test) untuk menguji sejauh mana pesawat ini mampu menahan beban maksimal, dan ketahanan tekanan (fatigue test) untuk mengukur seberapa panjang usia ekonomis pesawat.

Menurutnya, selain ketiga tes tersebut dilakukan secara paralel, uji terbang juga tak mesti harus selama 500-600 jam. Pihaknya menggunakan simulator untuk memastikan pesawat tersebut layak terbaik.

"Kalau tunggu 500-600 jam bertahun-tahun. Itu kami tes dengan menggunakan simulator dengan beberapa (sensor) secara langsung diletakkan di titik-titik pesawat. Agar PT DI bisa segera memenuhi pesanan yang datang," ungkap Agus.

Diungkapkannya, dirinya tak tahu kapan pesawat yang bisa terbang dari landasan 500 meter itu bisa dinyatakan lulus dari ketiga tes tersebut. "Itu saya enggak tahu, tergantung hasilnya," pungkasnya.
 

  detik  

Pengembangan N245 Butuh Rp 3 Triliun

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2ko3xS0sJERPCpNm5B7R1y6bQK4_cE19g8D89qmXhIy5IDcON0Sp3ixZ5PqRfdcKmTo5h5veQ2vvKk-wdYuMOVxHlpcGAX1y46KH1qE-Qqu524Fj0uuUXeVdiV4t8yIxGJBeVuLPgHYE5/s400/N245_Defense+Studies+%25282%2529.jpgModel pesawat N245 [Defense Studies] ☆

Setelah sukses dengan uji terbang pesawat N219, PT Dirgantara Indonesia segera mengembangkan pesawat N245. Pesawat N245 merupakan turunan dari CN235 hanya saja tanpa dilengkapi dengan fasilitas ramp door atau pintu di bagian ekor pesawat.

PT Dirgantara Indonesia memperkirakan sertifikasi pesawat N245 butuh dana 225 juta dolar AS atau sekitar Rp 3 triliun. Dalam sertifikasi itu akan dilakukan pengujian komponen vital pesawat, seperti sistem avionik, sayap, kelengkapan kokpit, dan peralatan pendaratan. Proses itu ditargetkan rampung pada 2018.

Biaya sebesar itu untuk membuat tiga prototipe (purwarupa) hingga merampungkan proses sertifikasi,” kata Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia, Arie Wibowo di Bandung, Rabu (6/9).

Arie mengatakan, saat ini, pengembangan N245 sedang dalam tahap desain awal. Menurut dia, targetnya pada 2018 selesai proses sertifikasi dan uji terbang dua tahun kemudian. Baru pada 2022, N245 dijadwalkan masuk pasar komersial.

Arie mengemukakan, potensi pasar N245 sangat besar di dalam negeri, terutama untuk melayani rute-rute yang berjarak antara 1 jam-1,5 jam melalui penerbangan.

Di Indonesia belum banyak dijangkau penerbangan jarak pendek, seperti Surabaya-Jember, Bandung-Cirebon, Bandung-Pangandaran, yang kalau lewat jalur darat membutuhkan waktu agak lama. Sementara pesawat N219 nanti yang akan mengisi rute-rute perintis,” ujar Arie.

Arie juga menyinggung, kompetitor N245 adalah ATR 42 buatan Peransis. ”Namun, kami tidak khawatir karena keunggulan N245 dapat mendarat di landasan pendek kurang dari 1.000 meter. Banyak bandara di Indonesia yang kondisinya seperti ini, sedangkan pesawat kompetitor tidak mampu mendarat di landasan pendek,” ucapnya.

Menurut Arie, pangsa pasar pesawat kecil dan medium ini di Indonesia relatif besar, untuk N219 sekitar 100 unit. Sementara untuk N245 antara 50-80 unit. Apabila target pasar dalam negeri itu terpenuhi, target angka tersebut bagi PT DI sudah balik modal.

Potensi pasar untuk pesawat N219 dan N245 juga bukan saja di dalam negeri, melainkan di luar negeri. Secara geografis yang cocok dengan Indonesia di antaranya kawasan Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. ”Kami berharap pesawat ini disukai banyak konsumen dari sejumlah negara,” katanya.

Arie mengungkapkan, Pemerintah Turki melalui Turkish Aerospace Industries Inc (TAI) juga berminat menjajaki kerja sama dengan PT DI untuk menjual pesawat itu ke kawasan Afrika. Turki, menurut Arie, mengusulkan agar pesawat N245 juga diproduksi di negara itu. Hal ini untuk memudahkan pemasaran pesawat ke kawasan Afrika yang jaraknya lebih dekat dari Turki dibandingkan dari Indonesia. Dengan demikian akan lebih efisien.

Tawaran Turki ini sedang dipertimbangkan, bentuk kerja samanya seperti apa. Namun, paling tidak tawaran ini juga menunjukkan pengakuan terhadap produk negara kita,” kata Arie.

Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro mengemukakan, PT DI juga perlu bersinergi dengan perusahaan besar dunia seperti Airbus dan Boeing. ”Kami perlu beraliansi dengan perusahaan-perusahaan penerbangan dunia, tapi di sisi lain kita juga harus fokus pada pasar, misalnya pada negara kepulauan dengan memproduksi pesawat kecil dan medium,” ujar Goentoro.

   Kompas  

Wednesday, 6 September 2017

Turki Siap Kerja Sama Garap N219

Untuk Pasar Afrika https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuxHGFDl_JXMKNoX8YH1Qtq6IQjE85ldFNbfLgt-m0Z1FKyFU029EHxBh9hbaiXV0cq4cwaN4TLkOIcaIz9T7mJMnqKHyr7WWeOAH2puUm46wRUH3xCP6cCGN1k4F7rXJl6ofUE9lH4S2B/s400/5993d19a69a19-pesawat-n219-buatan-pt-dirgantara-indonesia-dan-lapan_663_382.jpgN219 [Lapan]

Grafik pemasaran pesawat karya anak negeri produksi PT. Dirgantara Indonesia, N219, mengalami peningkatan usai uji terbang perdana pada Rabu, 16 Agustus 2017.

Hal tersebut terungkap seusai dialog rencana kerja sama PT. Dirgantara Indonesia dengan Universitas Indonesia untuk menjadikan industri pertahanan Indonesia yang mandiri pada 2045, Selasa, 5 September 2017.

Direktur Produksi PT. Dirgantara Indonesia, Arie Wibowo menjelaskan, setelah uji terbang itu partner bisnis PT. DI dari negara-negara luar, memberikan ucapan selamat.

Banyak memberikan selamat ke kita bahwa mampu dalam waktu yang relatif pendek. Kita bisa menerbangkan tanpa ada apa-apa, safe. Ini suatu kebangkitan,” ungkap Arie di pusat PT. DI, Kota Bandung Jawa Barat.

Menurutnya, apresiasi mereka bukan hanya sebatas wacana, melainkan keinginan membeli pesawat N219 diajukan. Menurutnya, N219 tergolong cocok digunakan di negara-negara berkembang.

Partner kami kan Airbus dari Eropa. Negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand ada keinginan sekarang, dia memberikan apresiasi dengan ikutan beli,” katanya.

Arie memastikan, pesawat akan dikirimkan setelah sertifikat layak beroperasi N219 didapatkan pada akhir 2018.

Yang sudah investasi itu Thailand, Myanmar. Beberapa Negara yang tidak bisa saya hitung, tapi mereka sudah menunggu,” katanya.

Bahkan, untuk memperpanjang grafik penjualan, PT. DI mendapatkan tawaran dari Turkish Aerospace Industries (TAI) untuk merancang N219 yang nantinya dijual di Afrika.

Turki untuk dipasarkan di Afrika. Kerja sama bikin N219 bersama-sama di sana untuk dipasarkan di Afrika. Menurut saya sangat logika, karena kalau bikin di sini pesawatnya kecil, mesti dikirim ke Senegal atau ke mana, berapa hari mengirimnya,” katanya.

Menurutnya, tawaran tersebut sangat logis untuk mendapatkan keuntungan, mengingat ukuran pesawat kecil. Arie mengatakan, tawaran Turki akan diambil karena perusahaan tersebut punya pengalaman yang kompetitif.

Mendingan diproduksi saja di sana. Support-nya by government. Mereka statusnya jauh lebih bisa helikopter tempur, badannya F-22,” terangnya.

  VIVAnews  

PT DI dan UI Gagas Pengembangan ‘Software’

https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2017/09/05/34/1236846/pt-di-dan-ui-gagas-pengembangan-software-pesawat-mPH.jpgIlustrasi

PT Dirgantara Indonesia dan Universitas Indonesia (UI) mengagas kerja sama pengembangan pembuatan software pesawat terbang.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Andi Alisyahbana mengatakan, banyak potensi kerja sama yang bisa dilakukan antara PT DI dan UI dalam bidang teknologi informasi (IT). PT DI sebagai perusahaan pembuat pesawat memerlukan pengembangan teknologi misalnya dalam bentuk software.

Misalnya pada IT, kami butuh software untuk produksi. Begitupun pada produknya, kami perlu software untuk pesawat. Itu yang sedang dibangun, sehingga nanti diharapkan mereka bisa terlibat,” jelas Andi usai pertemuan antara UI dan PT DI di Bandung, Selasa (5/9/2017).

Menurut dia, selain kerja sama pembuatan software pesawat terbang, UI dan PT DI bisa membangun kerja sama yang lebih luas lagi. Misalnya kerja sama sosial, politik, dan marketing. Kerja sama itu perlu dibangun, melihat potensi SDM yang dimiliki UI.

Mereka (UI) pun berharap mahasiswa S1 dan S2-nya bisa melakukan penelitian di PT DI. Sehingga diharapkan dapat menghasilkan tindakan yang saling mendukung,” ujar dia.

Selama ini, lanjut dia, kerja sama antara UI dan PT DI telah berjalan. Kerja sama itu dalam bentuk laboratorium pengembangan pesawat N219 untuk human access.

Dia berharap, melalui kerja sama lebih luas lagi dengan UI, produk PT DI bisa dimanfaatkan lebih maksimal di dalam dan luar negeri. Hal itu sesuai dengan target PT DI pada 2026 menjadikan produk pesawatnya lebih banyak dipakai kalangan sipil.

Saat ini, diakui dia, produk PT DI seperti NC212 dan CN235 banyak dipakai militer. “Saat ini produk kami hampir 80% dipakai militer. Ke depan, kami berharap komposisinya 50% dipakai sipil. Walaupun, kami juga memproduksi pesawat multi purpose, bisa untuk sipil atau militer,” beber dia.

  sindonews  

Tuesday, 5 September 2017

PT DI Gandeng Universitas Indonesia

Ujiterbang N219 [def.pk]

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) kembali unjuk gigi atas suksesnya penerbangan perdana pesawat N219. Suksesnya penerbangan tersebut membuat PT DI berbenah dan terus berinovasi. Tujuannya untuk terus melakukan pengembangan industri dirgantara Tanah Air.

Salah satu yang dilakukan PT DI yakni menggandeng Universitas Indonesia (UI). Ini dilakukan untuk penguatan dan pengembangan Industri Dirgantara Indonesia dan Industri Pertahanan secara nasional.

Jajaran pimpinan UI Selasa (5/9) pagi ini melakukan pertemuan dengan direksi PT DI, di Jalan Pajajaran, No 154 Bandung, Jawa Barat. Dari pihak UI langsung dihadiri Rektor Muhammad Anis beserta para dekan. Turut juga hadir Staf Ahli Diplomasi Ekonomi, Ridwan Hasan dan Kemenlu RI. Mereka diterima langsung Direktur Utama PT DI, Elfien Guntoro.

Dalam rangka mendukung upaya pemerintah untuk menjadikan industri pertahanan Indonesia yang mandiri pada 2045, UI terbuka bekerja sama baik antar lembaga termasuk dengan industri pertahanan nasional khususnya dalam hal ini PT DI,” kata Anis.

Dia mengatakan, untuk mewujudkan target, tentu sejumlah strategi alih teknologi dan peningkatan kualitas SDM dibutuhkan. Diyakininya UI di sini bisa berkolaborasi dengan PT DI khususnya mencetak SDM handal mengelola kemandirian bangsa pada Industri Ke-Dirgantaraan.

Kami juga mampu mendukung lewat berbagai penelitian dan pengembangan serta rekayasa inovasi teknologi pertahanan,” sebut Anis.

Sebagai salah satu dukungan UI pada pemerintah menuju Industri Pertahanan Indonesia mandiri pada 2045, UI tengah menggencarkan peningkatan produktifitas penelitian serta pengembangan inovasi para civitas akademika-nya. Di antaranya pengembangan alutsista Kapala Makara 05 dan Makara 06. Kapal itu merupakan drone permukaan laut karya mahasiswa Fakultas Teknik UI dengan menerapkan teknologi tanpa awak.

Dengan berbagai pengembangan inovasi yang sudah dibuat, UI berharap bisa juga meningkatkan kualitas produk dan SDM yang dimilikinya. “Dengan adanya sinergi dan peran dari UI dapat meningkatkan kualitas SDM handal dan profesional di PT DI khususnya sebagai Industri Pertahanan Indonesia yang mandiri pada 2045 mendatang,” ucap Elfien.

Sekadar diketahui PT DI merupakan BUMN yang menghasilkan produk-produk utama pesawat terbang, komponen pesawat terbang, jasa perawatan pesawat terbang dan jasa rekayasa. Sejak berdiri 1976 berbagai karya anak bangsa dihasilkan yakni CN235-220, NC212i, CN295 dan teranyar N219. PTDI juga sudah menghasilkan berbagai skema produksi bersama varian airbus helicopter‎.

Selain itu PT DI juga membuat dan memproduksi bagian dan komponen tools serta fixtures untuk pesawat Airbus tipe A320 dan A380.

  Merdeka  

Friday, 1 September 2017

Jokowi Banggakan Pesawat CN235

Dibeli Thailand Hingga KoreaCN235 Patmar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memosting foto pesawat CN235 di akun Facebook miliknya. Jokowi membanggakan pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) lantaran laris dibeli sejumlah negara.

"Inilah pesawat CN235 produksi PT Dirgantara Indonesia yang digunakan oleh Angkatan Udara Senegal di Afrika. Pesawat lainnya juga telah dikirim ke kepolisian Kerajaan Thailand dan penjaga pantai Korea Selatan," ujar Jokowi, dikutip dari akun Facebook resminya, Jumat (1/9/2017).

Jokowi mengatakan, di berbagai negara CN235 dikenal sebagai pesawat multiguna. Digunakan untuk evakuasi medis, angkut penerjun, kargo, sipil, maupun VIP dan VVIP.

Jokowi menambahkan, pengiriman pesawat CN235 bukan hanya perdagangan semata, melainkan juga sebagai diplomasi ekonomi.

"Pengiriman pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia ini bukan sekadar aksi perdagangan belaka, tapi sekaligus diplomasi ekonomi Indonesia di dunia," tutur Jokowi.

Selain Senegal, Thailand, dan Korea Selatan, Nepal juga membeli pesawat CN235 khusus untuk angkutan militer, yaitu CN235-220 Military Transport.

Pesawat CN235 sendiri terdiri atas tiga jenis, yaitu CN235-220 Civil, CN235-220 Military, serta CN235-220 Mission dengan berbagai kegunaan yang berbeda-beda. (hns/rvk)
 

  detik